LAnjutan…

22 September

Jam 00.30 udah bangun lagi untuk siap-siap sholat Tahajud. Sholat malam ini terdiri dari 10 rakaat, dimana masing-masing ruku dan sujud waktunya diperpanjang. Jadi seperti sholat Tasbih. Kemudian ditutup dengan sholat Witir 2+1 rakaat. Alhasil, waktu sholat mulai dari pukul 1 dinihari dan selesai jam 3 pagi. Langsung disambung dengan makan sahur di hotel. Setelah makan kita ambil wudhu lagi di kamar dan langsung turun untuk menunggu waktu Shubuh tiba.

Hari berjalan rutin seperti  kemarin. Sholat Fardhu diusahain di Masjid Nabawi, diselingi dengan Iftar lalu makan malam di hotel. Kondisi tertidur waktu Tarawih atau Tahajud jangan ditanya lagi. Dinginnya udara di dalam masjid menunjang mata kita untuk merasakan kantuk yang luar biasa. Cipratan air zamzam menyegarkan memang, tapi hanya sementara. Al Quran pun akhirnya kita buka sambil berdiri sholat ketika Imam menyuarakan bacaan surat yang panjang-panjang, supaya mata dan pikiran lebih fokus.

Pagi ini kunjungan ke Makam Rasulullah yang berada di dalam lingkungan masjid Nabawi. Raudhah atau peristirahatan terakhir Rasulullah ini merupakan area yang sangat ramai dipenuhi para jamaah. Jamaah perempuan dan laki diberi waktu berkunjung yang berbeda. Untuk wanita, dibuka pagi hari selama Ramadhan dan untuk pria waktunya lebih banyak.

Jam 7 pagi kita, para wanita, berkumpul di lobby hotel untuk bersiap-siap menuju pintu 25. Sampai di area Raudhah, Masya Allah, banyak sekali jamaah dari berbagai negara dan bangsa. Tujuan mereka satu, berdoa dan sholat sunnat di Raudhah. Rombongan kita, yang berjumlah di bawah 10 org tentu dengan mudahnya menyelinap masuk. Apalagi sebagai orang Indonesia, postur tubuh kita tidak ada apa-apanya dibanding orang-orang dari Turki, India, Afrika. Walhasil tidak lama kemudian kita sampai, tapi ternyata kondisi di dalamnya sudah penuh sesak, setelah berdoa dan (saya tidak) sempat sholat Sunat, dengan hampir terinjak-injak ketika sujud, kekurangan oksigen, akhirnya keluar juga kita, karena sudah diusir oleh para askar wanita.

Sampai kamar, mau tidak mau mandi lagi kedua kalinya di pagi ini, karena baju basah oleh keringat.

Jam 10 sudah ditunggu lagi di lobby hotel untuk pergi ziarah. Perjalanan kita kali ini ke Mesjid Qiblatain, Mesjid Quba (kita berhenti untuk sholat sunnah disini) dan diakhiri kunjungan ke Pasar Korma.

DSC03156 Bukit Hud

DSC03167 Sebuah Masjid Di Madinah

Sebelum dzuhur sudah sampai di hotel kembali. Tidak sholat Dzuhur di masjid karena berat sekali mata ini.

23 September

Hari ini adalah hari terakhir kita di Madinah. Kita diharuskan berkumpul di lobby hotel pukul 9 pagi sudah lengkap dengan pakaian Ihram. Karena rute kita hari ini adalah ambil Miqat, lalu menuju Mekkah (ditempuh dalam 6 jam perjalanan), langsung melaksanakan ibadah umroh. Kita berkejaran dengan waktu, karena kita harus melaksanakan Umroh antara waktu Ashar dan Magrib.

Kalau kita terlambat masuk ke Masjidil Haram, akan susah untuk bertawaf atau sa’i. Karena semakin padatnya jamaah yang masuk menjelang Iftar.

Perjalanan Madinah-Mekkah tidak jauh beda dengan Jeddah-Madinah. Jalanan yang kering dan tandus, dihiasi dengan bangkai ban dan mobil di pinggir jalan.

Alhamdulilah kita sampai tepat pada waktunya di Hilton Mekkah. Kita langsung ambil wudhu di toilet lobby hotel, dan langsung menuju pelataran masjid. Subhanallah. Matahari begitu menyengat. Adzan Ashar sudah berkumandang. Langsung rombongan kita masuk dan mencari tempat seraya berjalan menuju Ka’bah. Setelah sholat Ashar dan menjama’ Dzuhur, kita langsung berjalan memulai tawaf. Rombongan kita yang terdiri dari 20 orang, terpisah dua karena padatnya jamaah yang hendak bertawaf juga.

Tujuh putaran dilalui dengan mengelilingi Ka’bah. Mutawwif kita membacakan doa-doa yang berbeda di tiap putaran. Kita tinggal mengikuti atau membaca buku panduan doa. Setelah tawaf, kita bergeser ke pinggir untuk melaksanakan sholat sunnah Tawaf sebanyak 2 rakaat. Dan berdoa sesuai keinginan kita.

Dari situ kita menuju area Sa’i. Area ini sudah diperbesar sejak tahun lalu dan masih dikerjakan untuk memberikan fasilitas lebih bagi para Jamaah. Disini, terasa sekali mulai lemas dan kurang konsentrasi. Karena kondisi puasa, ditambah lelah setelah bertawaf, Sa’i (berjalan antara bukit Shafa dan Marwa 7x) dengan lokasi yang lebih luas ini sebenarnya terasa lebih lapang. Tidak berdesak-desakan kecuali di puncak bukit. Area zam-zam yang digunakan untuk menyegarkan diri para Jamaah amat sangat membantu kita meneruskan perjalanan ini. Alhasil tiap putaran, kita mampir sebentar untuk menyegarkan muka.

Alhamdulillah, sebelum Magrib kita selesai Sa’i dilanjutkan Tahalul (memotong sedikit rambut) tanda selesai mengerjakan Umroh. Kita terduduk, masih di area Sa’i sambil mengisi gelas dengan air zam-zam untuk persiapan buka. Ada saja yang memberikan kita korma untuk berbuka. Alhamdulillah. Ini buka puasa pertama kita di Masjidil Haram. Nikmatnya luar biasa.

Hari-hari berikutnya kita isi dengan ibadah di Masjid, atau berjalan-jalan sekitar hotel. Kami tidak mengikuti ziarah di kota Makkah.

Puncaknya, yaitu malam ke 27, yang jatuh pada malam Sabtu, jamaah melimpah ruah. Masjidil Haram benar-benar penuh dengan lautan manusia. Malam itu kami berlari menuju Masijdil Haram, khawatir tidak kebagian tempat di dalam untuk sholat Tahajud. Kami diajak melewati pintu yang jauh dari tempat biasa kami masuki. Biasanya kami masuk lewat pintu 84-85, yang berada langsung di depan hotel. Kali ini kami ke pintu 57, yang berarti kami harus berjalan ke kiri lebih jauh menuju bagian seberang masjid. Ternyata pintu sini memang sepi. Kami bisa masuk ke dalam dan mendapat tempat yang enak dan tidak berdesakan. Sehingga Alhamdulillah bisa lebih khusyu dalam menjalankan sholat. Tapi mata ini sepertinya tidak bisa diajak kompromi. Padahal bekal Caramel Macchiato sudah disiapkan. Sepertinya tidak berpengaruh banyak.

Namun kejadian yang menegangkan justru terjadi setelah sholat Tahajud. Kami keluar mesjid dihadapi dengan lautan manusia. Kami harus melewati ratusan ribu jiwa manusia yang badannya besar-besar. Kami terkurung didalamnya. Belum lagi mereka saling dorong dan sikut menyikut. Laki, perempuan, tua, muda, kecil, dewasa…kami serasa kehabisan oksigen. Kami takut sekali terjadi kerusuhan. Bayangkan apa yang bakal terjadi bila salah satu orang saja tersulut emosinya. Tapi Allah masih melindungi kami, dengan mengikuti dorongan massa, 20 menit kemudian, kami terbebas dari kerumunan manusia. Plus ditambah anggota kami sempat terjatuh. Alhamdulillah tidak cedera. Kami langsung ke hotel untuk makan sahur. Eh, di escalator hotel, ada insiden Ibu-ibu yang jatuh terseret. Saya masuk kamar dulu sebelum ke restoran. Dan duduk terdiam. Little bit shock. Rasanya ada yang sesak di dada. Antara takut, gelisah dan lega bercampur. Tak lupa mengucapkan syukur atas keselamatan kami. Makan sahur kali ini rasanya kurang berselera.

27 September

Hari ini adalah hari terakhir kami di kota Mekkah Al Mukarromah. Jam 9 kita berkumpul di Lobby untuk melaksanakan Tawaf Wada’ (tawaf perpisahan). Setelah tawaf ini kita tidak boleh lagi sholat di mesjid, jadi sholat Dhuhur dikerjakan di kamar hotel, sebelum akhirnya kita pergi menuju Jeddah.

Perjalanan ke Jeddah berlangsung 1.5 jam. Kita berputar-putar di kota melewati Masjid terapung dan pertokoan Rubaiyat. Tak lama waktu Magrib hampir tiba. Kita makan di  restoran Asia. Lalu lanjut ke King Abd Aziz Airport, untuk penerbangan jam 9 malam ke Indonesia.

28 September

Alhamdulillah, sampai di Jakarta dengan selamat.

Advertisements

One Response to “LAnjutan…”

  1. r.a.r.u Says:

    knp duduk terdiam???? teringat insiden di KL ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s


%d bloggers like this: